TAK SEMUDAH yang DIBAYANGKAN

Alhamdulillah….akhirnya aku terlepas dari sebuah nazar yang aku ucapkan sendiri. Bisa dibilang mungkin ini adalah akhir cerita burukku, lebih tepatnya mimpi burukku yang selama ini terjadi padaku. Semoga saja penuturanku kali ini tidak njlimet, sehingga mudah dimengerti oleh para pengunjung situs blog-ku ini. Yang jelas, setelah ini, insya Alloh aku akan lebih menghadapi hari-hari ku dengan tenang dan penuh kesadaran. Bisa dibilang selama SMA ini aku mengalami masa yang tersulit dalam hidupku. Here the complete story….I hope it will be a nice story for you!

Awalnya, kukira memenuhi sebuah nazar adalah hal yang mudah bagiku, temen-temen ku aja banyak yang nazar sampe dibela-belain puasa 1bulan penuh. Tak seperti biasanya, kali ini aku kurang percaya diri dengan nilai hasil UAN SMP ku. Dulu pas waktu SD, aku percaya diri n yakin bahwa aku bisa diterima di SMPN ternama di Kediri tanpa takut akan banyaknya saingan yang nota-bene nya nilai mereka lebih bagus dariku. Namun, nggak tau kenapa kali ini aku bener-bener tidak PD n yakin bahwa aku akan diterima di SMAN ternama yakni masih di kota yang sama. Lantas, tiba-tiba terlintas di benakku untuk melakukan suatu nazar yang aku yakini bahwa aku sanggup untuk memenuhinya. Nazarku ini bisa dibilang lain daripada yang lain, meskipun mungkin untuk sebagian muslimah sejati hal ini akan mudah untuk dilakukan dan aku pun berpikir sama seperti mereka, bahwa aku sanggup untuk menjadi muslimah sejati. Tiba-tiba saja aku berucap, “ Jika aku diterima di SMAN 2 Kediri, aku berjanji bahwa tidak akan jatuh cinta kepada lawan jenis( kecuali keluarga) selama 3tahun di SMA, walaupun sekedar kagum. Pokoknya aku hanya akan mencintai mereka sebatas teman biasa dan sahabat saja, tidak lebih. Yang jelas, niatku hanya belajar, belajar, dan belajar(baik akademis maupun non-akademis). Ya Alloh, jika hamba melanggar janji hamba sendiri, hukumlah hamba yang berat, lebih berat dari penyakit jasman dan rohani. Amin”.

Yaah..begitulah nazarku, yang tanpa kusadari dan baru aku sadari setelah setahun aku kuliah, bahwa nazarku itulah yang selama ini akar dari segala kejadian mengerikan yang aku alami. Awalnya sih aku biasa-biasa saja, hingga masa orientasi siswa aku lalui dengan baik bersama peserta MOS lainnya. Segalanya berubah seketika setelah aku melihat sosok yang selama ini aku idolakan, yakni kakak kelasku sendiri, sebut saja namanya Tory. Entah kenapa rasa kagum itu mulai muncul lagi setelah sekian tahun aku tidak bertemu dengan dia. Sebelumnya Tory adalah kakak kelasku sewaktu aku SMP. Alasan kenapa aku mengaguminya adalah lantaran sosoknya yang mirip dengan kakak kandungku, yang sejak kelas 3SD aku sudah jarang bertemu karena dia menjadi anak kos, so bisa dibayangkan gimana perasaan seorang adik yang jarang lagi ketemu kakaknya di rumah, yang jarang lagi bercanda dan bermain, apalagi semenjak dia jadi anak kos, jarak antara kami jadi sedikit renggang, sehingga tiap kali dia pulang ke rumah, we just say hello, not as like as last time, before he become a boy of boarding house. Maka dari itu, seketika pada saat pertama kali aku melihat Tory di SMP, aku langsung kagum dan simpatik terhadapnya. Namun hal itu tidaklah berlangsung lama dan tidak terlalu kuanggap serius, sebab selain umurku yang masih dini, waktu itu kami pun segera berpisah, lantaran dia telah kelas 3 SMP, sedangkan aku masih kelas 1SMP, sehingga dia pun segera lulus. Eh…nggak taunya aku berada di SMA yang sama dengan dia dan mau nggak mau aku seperti CLBK ma dia, hehehe….Semula sih aku tidak begitu heboh, aku masih bisa mengendalikan emosiku, sebab aku masih teringat akan nazar-ku. Namun itu semua berubah menjadi 180 derajad, tepatnya setelah aku satu ekskul dengannya, yakni anggota Paskibra sekolah. Kebetulan saat itu dia lumayan sering melatih kami(anggota paskibra baru), sehingga semakin lama aku semakin tidak sanggup lagi mengendalikan emosiku dan aku telah lupa dengan janji-ku dengan kata lain aku telah melanggar nazar-ku sendiri. Hingga aku pun dibuat “sakit” oleh Alloh. Sakit di sini bukanlah sakit biasa. Sakit dimana aku selalu tidak pernah menyadari segala sesuatunya yang telah kuperbuat, seakan ada kekuatan tersendiri yang mengendalikan segala gerak-gerikku, baik tingkah laku, ucapan, maupun pikiranku, sehingga aku tidak sadar atas apa yang selalu aku perbuat, ucapkan, dan aku pikirkan. Seolah semua itu ada yang mengendalikannya, dan hingga saat ini aku pun belum tau siapa atau apa yang mengendalikan aku selama kurang lebih 3tahun itu. Semenjak itulah aku dicap sebagai gadis yang gila, aneh, agresif, berani menentang guru, tak tahu sopan santun, bahkan kerap kali membuat teman-temanku gelisah. Tapi anehnya, aku tidak mau mengakui kesalahan-kesalahan itu, sebab dari dasar hati ku yang paling dalam, aku merasa bahwa aku tidak bersalah sebab bukan aku yang melakukan semua itu. Sehingga banyak yang menyimpulkan bahwa aku ini kerasukan jin/setan. Meskipun, jujur, aku enggan disimpulkan seperti itu, sebab pada saat itu tidak pernah sekalipun aku meninggalkan sholat, ngaji, bahkan aku ikut ke dalam kegiatan remaja masjid dan sampai saat ini aku masih mengingat detail setiap kejadian yang menimpaku selama kurang lebih 3tahun, waktu yang cukup panjang, waktu yang seharusnya kuisi dengan berbagai kenangan indah bersama teman-teman-ku. Namun, kembali aku harus pasrah menerima semua itu. Toh, aku tidak akan bisa memutar kembali waktu yang telah kulewati. Sia-sia saja aku menjelaskan dan meyakinkan kepada mereka bahwa aku ini tidaklah kerasukan jin/setan. Mana mungkin mereka percaya dengan penjelasanku yang mungkin bagi mereka mustahil terjadi. Tapi Demi Alloh semua itu tidak akan terjadi jikalau aku tidak melanggar nazarku sendiri, terserah percaya atau tidak.

Begitulah hari-hari selama 3tahun aku lewati tanpa adanya kesan yang membekas. Walaupun tidak sepenuhnya 3tahun tersebut kuisi dengan hal-hal yang menyedihkan, yakni kejadian yang selalu membuatku menangis. Seringkali aku dipanggil ke ruang BP dan harus mempertanggungjawabkan artikel-artikel yang telah kutulis dan ku edarkan ke semua ruangan yang ada di sekolah itu, termasuk semua ruang kelas (ada 27 kelas) dan ruang BP, yang menurut mereka kalimat-kalimat dalam artikel ku tersebut terlalu ‘kritis’ dan bermakna ambigu baik secara agama maupun dilihat dari segi sosialnya. Padahal aku tidak merasa pernah menulis itu semua, dan aku tidak ingat semua topic artikel tersebut. Tapi hal tersebut tidak bisa aku buktikan, sebab jelas-jelas artikel tersebut tertulis tangan dan itu adalah benar tulisan tanganku sendiri, dan aku tidak menyangkalnya. Hal-hal tersebut terus-menerus kualami kurang lebih 1tahun hingga datang seorang “paranormal” yang menyembuhkan ku. Dan semenjak itu, aku sudah mulai bisa mengendalikan emosiku lagi. Terlebih, ketika aku mulai berjilbab, tepatnya awal kelas 2 SMA. Namun, masih saja aku dalam masa-masa penemuan jati diri, sehingga banyak yang salah mengartikan sikapku selama di SMA. Mungkin paranormal tersebut telah memberiku sesuatu yang dapat membantuku dalam melaksanakan nazarku, mengingat perjalananku dalam memenuhi nazar tersebut masih kurang 2tahun. Segala bentuk perhatianku kepada mereka yang lawan jenis, seringkali dianggap lebih. Padahal saat itu yang ada dipikiranku hanyalah melakukan apa yang seharusnya kulakukan tanpa ada niatan sebelumnya. Sulit bagiku untuk jatuh cinta kepada lawan jenis, bahkan sempat terpikir olehku bahwa aku ini abnormal, sebab aku hanya menganggap semua teman-teman ku baik cewek maupun cowok hanyalah teman biasa dan rasa sayangku juga perhatianku itu hanya sebatas teman/ sahabat bahkan mereka semua kuanggap seperti saudara sendiri. Namun, tanggapan mereka terhadapku malah sebaliknya. Mereka menganggapku bahwa aku ini tebar pesona, hiperaktif, terlalu berlebihan, sok cari perhatian, sok akrab, kekanak-kanakan, dsb. Maka aku pun sulit untuk membedakan antara kawan dan lawan. Semua kuanggap baik dan seringkali aku tidak menyadari bahwa aku telah ditipu, dikhianati, dibenci, bahkan dicintai oleh mereka. Semuanya terasa begitu sama, yang kurasakan hanyalah kebaikan mereka yang datar tanpa maksud dan tujuan tertentu, sikap mereka tidaklah bermaksud apa-apa kecuali berteman biasa, bukan bermusuhan ataupun berteman special, layaknya aku menganggap mereka itu adalah sama sepertiku, sehingga semua orang yang kukenal kusamaratakan dengan diriku, baik itu watak, sifat, dan pikirannya.

Hal itu terus berlangsung hingga aku menerima ijazah SMA ku. Malam itu, insya Alloh sekitar pukul 12 hampir mendekati dini hari, mata ku ini belum juga terpejam, padahal tidak ada PR ataupun tanggungan sekolah yang harus aku selesaikan. Beberapa menit setelah itu, mata ku mulai sedikit mengantuk dan lambat laun kurasakan ada sesuatu yang aneh. Aku sendiri sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Yang jelas saat itu, ada sesuatu yang kurasakan seolah mengusap keningku, hingga terasa dingin seperti es. Ibarat papan tulis yang penuh dengan tulisan-tulisan lalu tulisan-tulisan tersebut terhapus secara sengaja oleh penghapus papan tulis. Begitu juga denganku, seketika setelah kurasakan sesuatu yang dingin tersebut menyentuh keningku, aku merasa bahwa segala persoalan yang kuhadapi selama ini terasa ringan tanpa beban. Sejenak aku berpikir, mungkin saat itulah Alloh telah menghapus dan membebaskan aku dari nazar ku tersebut. Itu kualami insya Alloh pada 24 Agustus 2007. Setelah kejadian itu, aku merasa seperti bayi yang baru lahir kembali, semuanya terasa ringan tanpa beban, seolah Alloh telah membuka lebar mata dan hatiku. Namun ada sesuatu yang masih mengganjal di benakku, yakni perasaan bersalah terhadap orang-orang di sekitarku, baik itu keluarga, teman ku, teman kakakku, kerabat, pokoknya semuanya yang ku kenal. Hingga saat ini, aku mengetik tulisan ini, aku masih diliputi perasaan bersalah terhadap mereka semua.

Maka dari itu, melalui tulisan ini kuucapkan maaf yang sebesar-besarnya bagi siapa pun yang pernah dan merasa pernah aku sakiti hatinya. Maafkan aku atas segala khilafku selama ini. Aku berharap setelah ini, aku dapat memulai kembali kehidupan ku yang baru dengan segala tingkah laku, ucapan dan pikiran yang benar-benar aku sadari. Dan yang terpenting, menginjak usiaku yang tinggal beberapa bulan, genap berkepala dua ini, aku bukanlah lagi seorang GADIS YANG TAKUT UNTUK JATUH CINTA!!! Because of love, I can life till now….^_^

Kali ini tulisanku ini adalah benar-benar fakta yang bersumber dari pengalaman pribadiku tanpa aku beri bumbu terlebih dahulu. Maka dari itu, aku berharap bagi kalian yang membaca ini, dapat memetik manfaatnya. Sedikit pesan singkat dari aku, bahwa “Jangan pernah sekali pun kita bermain dengan nazar, sebab jikalau kita melanggarnya, maka akan sangat amat besar akibat yang akan kita rasakan”. So…the conclusion is kalau kita belum yakin sepenuhnya akan kesanggupan kita dalam melewati nazar tersebut, lebih baik kita tidak usah bernazar, daripada kita menyesal di kemudian hari. Tetap SEMANGAT YAA….!!!!CHAYO….!!!! Kita harus bisa menjadi PRIBADI yang MENGETAHUI BAHWA KITA TAHU, jangan sampai KITA TIDAK MENGETAHUI BAHWA KITA TAHU atau KITA TIDAK MENGETAHUI BAHWA KITA TIDAK TAHU. Contohnya aku, kalo’ mengingat-ingat kejadian SMA, rasanya aku tidak pernah mengalami masa-masa SMA seperti yang dibilang oleh kebanyakan orang, yakni masa SMA itu adalah masa yang terindah, masa di mana kita mencari jati diri. Kadang aku merasa bahwa aku tidak ingat pernah melewati masa SMA, sebab segala sesuatu yang kulakukan di SMA tidaklah murni atas kesadaranku sendiri(di luar kesadranku), seakan ada yang mengendalikannya. Namun, jika aku merasa telah melewati masa SMA, kenapa masa-masa itu hanya berjalan biasa-biasa saja yach??!! Without something of special seperti yang dialami oleh sahabat-sahabatku, yakni JATUH CINTA…..!!!Hahahahaaaa…..(mungkin ada sisi positifnya juga aku bernazar seperti itu, sebab aku merasa bahwa sekaranglah saat yang tepat bagiku untuk jatuh cinta kepada seseorang(tentunya lawan jenis) yang tepat pula!!!;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: