BRAIN DRAIN & REMITTANCE

Saat ini banyak kalangan menyebutkan istilah Brain Drain di berbagai kesempatan. Rupanya fenomena brain drain telah menjadi isu yang hangat di tengah masyarakat, khususnya Indonesia. Umumnya mereka memandang dan menghubung-hubungkan brain drain dengan atau dari kacamata migrasi internasional. Lantas apakah sebenarnya BRAIN DRAIN itu? Dari hasil kelas debat kemarin, saya sebagai grup atau kelompok kontra dapat menyimpulkan bahwa Brain Drain adalah hilangnya sumber daya manusia yang berpotensi di suatu negara. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa brain drain adalah berpindahnya individu suatu negara untuk bekerja di luar negeri dan tidak mau kembali ke negara asalnya. Tentunya tidak kembalinya mereka ke negeri asalnya tidaklah tanpa sebab. Banyak faktor yang menyebabkan mereka melakukan Brain Drain, antara lain kurangnya gaji yang mereka terima jika mereka bekerja di negaranya(gaji di luar negeri lebih tinggi daripada di negaranya)sehingga mereka merasa kurang dihargai di negara asalnya, kurangnya fasilitas baik sarana maupun prasarana yang ada di Indonesia menyebabkan mereka untuk lebih memilih tinggal di luar negeri.

Menurut kelompok kami, brain drain tidak hanya merugikan, namun juga ada dampak positifnya. Dengan adanya brain drain, mereka dapat menyumbangkan kontribusi-kontribusi ke negaranya walau dari jarak jauh dan dapat menjalin jejaring intelektual di luar negeri. Oleh karena itu, dengan mengedepankan pembangunan semangat budaya networking di kalangan intelektual Indonesia di luar negeri, maka mereka yang berada di sana dapat memberikan sumbangsih kepada ratusan juta warga di Tanah Air dan dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan bangsa. Untuk pengembangan konsep network itu tentu dibutuhkan perantara dalam proses pembangunan jejaring intelektual itu. Dan elemen yang amat signifikan adalah keberadaan Perhimpunan Pelajar Indonesia di luar negeri.

Namun ada juga yang menganggap bahwa mereka yang melakukan brain drain (braindrainer)tidak memiliki rasa nasionalisme terhadap bangsanya sendiri. Menurut kelompok kami, justru dengan adanya brain drain, mereka memiliki rasa nasionalisme terhadap bangsanya, hal ini dapat kita lihat dari prestasi mereka di luar negeri, sehingga secara langsung maupun tidak, mereka telah membawa nama baik bangsanya di negara tersebut(negara tujuan). Mereka sudah berikan yang terbaik (prestasi) kepada negara, itu adalah bentuk nasionalisme yang tinggi, harusnya negara lebih menghargai mereka dengan pemberian beasiswa dan fasilitas penelitian yang memadai, jangan sampai mereka ditampung oleh negara tetangga dan memajukan negara lain(negara tujuan). Menurut saya, jika ada orang Indonesia lulusan SMA yang sekolah/ melanjutkan sekolah ke luar negeri dan setelah berhasil mereka bekerja di luar negeri, itu namanya bukan Brain Drain, karena mereka bukan ahli dari Indonesia.

Debat minggu lalu, saya termasuk ke dalam kelompok yang kontra terhadap Remittance. Menurut saya, berdasarkan hasil debat tersebut, remittance adalah pengiriman uang dari tenaga kerja yang ada di luar negeri(bekerja di luar negeri) untuk dikirimkan ke negara asalnya untuk diberikan kepada keluarganya. Dalam pengiriman uang inilah seringkali terjadi masalah. Misalnya, pengiriman uang yang tidak lancar. Banyak tenaga kerja(tenaga kerja Indonesia) yang masih enggan untuk menggunakan jasa bank dalam pengiriman tersebut, sebab menurut mereka selain rumit, biaya pengiriman uang dari luar negeri juga jadi berlipat-lipat karena bank mengenakan biaya perbedaan kurs valuta asing ke rupiah terhadap uang yang dikirim ke Indonesia. Sebenarnya sudah banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang membuka rekening di Indonesia sebelum berangkat mencari nafkah di luar negeri. Harapannya, gaji yang diterima setiap bulan bisa langsung disimpan di bank bersangkutan atau ditransfer lewat bank yang ada di negeri tersebut. Sayangnya, masih banyak kelemahan dari berbagai institusi yang terlibat dalam proses pengiriman uang tersebut, yakni TKI sebagai remitter, keluarga TKI sebagai penerima uang atau beneficiary, dan lembaga terkait (termasuk bank, pemerintah, maupun perusahaan jasa TKI). Kelemahan semua pihak terkait mengakibatkan pengurangan jumlah kiriman yang signifikan, kiriman uang lama atau bahkan uang raib. Salah satu faktor penyebabnya adalah sistem pengiriman uang yang belum berjalan dengan baik.

Permasalahan berawal ketika TKI akan berangkat ke luar negeri, sebagian besar tidak dibekali dengan pengetahuan praktis perbankan, khususnya soal kiriman uang. Beberapa kelemahan yang sering dilakukan TKI dan mengakibatkan kerugian dalam mengirim uang antara lain kurangnya pengetahuan tentang produk pengiriman uang berupa telegraphic transfer, demand draft, wesel pos, atau instant transfer. Akibatnya, TKI tidak dapat menentukan dengan tepat metode yang cocok untuk keluarganya, juga karena sulit komunikasi dengan customer service di bank pengirim. Ini terjadi karena tidak tersedianya data rekening atau alamat penerima, apalagi ada negara TKI, khusus perempuan sulit datang langsung ke bank. Ini mengakibatkan berita mengenai kiriman uang tersebut lambat sampai di penerima, dan kebiasaan keluarga TKI minta jasa orang lain untuk membantu proses pengambilan uang di bank.

Walaupun secara sepintas masalah ini relatif sederhana, ternyata pengiriman uang TKI menjadi kompleks. Indikasinya masih banyak masalah yang timbul, tingginya pertanyaan dari remitting bank, dan banyak TKI yang merasa dirugikan. Menghindari persoalan ini, peran pemerintah dan perbankan diharapkan menjadi lebih besar, khususnya dalam mengedukasi TKI dan keluarganya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sosialisasi bisa dilakukan melalui pertemuan, pelatihan sebelum pemberangkatan TKI, perkumpulan informal di desa, atau di kantor perwakilan negara Indonesia di luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: