Bangsa-Negara Indonesia:Bentuk Negara dan Sistem Demokrasi yang berubah-ubah dalam krisis

Apa yang kita saksikan dan alami tampaknya tidaklah keliru jika kita berkata : menjadi merdeka, betapa tidak mudahnya. Coba kita lihat dalam pengertian yang lebih khusus dalam kaitannya dengan bentuk negara dan penataan system pemerintahan dalam arti yang dijalankan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Dari awal Indonesia merdeka, kita sudah mengenal system demokrasi parlementer-liberal walaupun tidaklah bertahan lama. Kemudian kita berganti pada system demokrasi terpimpin, yang mana pada system ini, banyak sekali pro dan kontra yang terjadi.

Secara tradisional para ilmuwan politik telah meluncurkan pertanyaan-pertanyaan tentang demokrasi. Modern Democracies karya James Bryce(1921) dan Constitutional Government and Democracy karya Carl.J. Friedrich (1937) merupakan wakil dari trend ini. Perhatian kepada demokrasi menyertakan isu-isu pemilihan umum dan legitimasi constitutional ke dalam analisis politik. Lucian Pye (1965 dan 1966) menekankan pembangunan sebagai penguatan nilai-nilai dan praktek-praktek demokrasi. Ia berpendapat, bahwa adanya partisipasi pluralistik, system multipartai, dan politik persaingan maupun stabilitas politik dan penghindaran ketegangan yang berlebihan. Pembangunan demokrasi, bagaimanapun juga, harus diimbangi dengan pemerintahan yang kuat dan kewenangan yang teratur. Ketika pemerintahan berkembang lewat peningkatan pembedaan, krisis kesetaraan dan kapasitas, maka akan menimbulkan terjadinya : krisis identitas, legitimasi, partisipasi, penetrasi, dan distribusi.

Setiap krisis tersebut akan digambarkan secara terpisah. Krisis identitas berhubungan dengan budaya massa dan elit dalam pengertian perasaan-perasaan nasional mengenai wilayah, pembelahan yang menggerogoti kesatuan nasional, dan konflik antara loyalitas etnik dengan komitmen nasional. Misalnya, pada peristiwa DI/TII dan PRRI-Permesta, serta gerakan separatis di Irian Jaya/Papua(OPM-Organisasi Papua Merdeka). Bahkan muncul juga gerakan separatis lainnya yang terjadi di Aceh, yang biasa kita kenal dengan Gerakan Aceh Merdeka, dan lain sebagainya. Krisis legitimasi tumbuh karena perbedaan-perbedaan mengenai kewenangan, misalnya, ketika sebuah kelompok penguasa terpaksa bersaing memperebutka kekuasaan dengan kelompok-kelompok lain atau mengklaim kekuasaan seorang penguasa ditolak oleh massa sebagai tidak berlegitimasi. Krisis partisipasi adalah sebuah konflik yang terjadi ketika elit yang memerintah memenadang permintaan dan perilaku individu-individu dan kelompok-kelompok yang mencoba berpartisipasi dalam system politik sebagai tidak berlegitimasi. Seperti contoh pada zaman Orde Baru, dimana rakyat tidak diperkenankan untuk memberikan suaranya secara langsung. Baru pada tahun 2004, dilaksanakanlah pemilu secara langsung yang pertama kalinya. Krisis penetrasi dicirikan oleh tekanan-tekanan kepada elit yang memerintah untuk membuat adaptasi atau inovasi institusional dengan keragaman tertentu. Krisis distribusi dianalisis dalam pengertian masalah-masalah seperti ideology, sumber daya fisik dan manusia, serta lingkungan institusional.

Oleh karena itu, sampai sekarang pun seebenarnya krisis di Indonesia belum juga berakhir. Selama periode awal reformasi telah terjadi gerakan-gerakan yang menggunakan isu demokrasi untuk melakukan berbagai perubahan dalam hubungan dengan pengaturan diri sebagai bangsa-negara. Sekilas, jikalau kita melihat perjalanan di kelampauan sejarah kitu, tampak dengan jelas fakta bahwa persoalan utama yang akan tetap dihadapi adalah format system politik yang akan dikembangkan secara berkesinambungan. Artinya, sampai seberapa mungkin pemimpin-pemimpin bangsa-negara mampu menjalankan suatu system demokrasi yang membuka peluang bagi semua warga untuk memperoleh kesempatan mengambil peranannya berdasarkan konstitusi yang berlaku, sehingga bangsa-negara kita terhindar dari krisis-krisis tersebut. Tuntutan untuk mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera baik dalam era kemerdekaan bangsa-negara sekarang dan yang di masa depan, akan tetap menjadi taruhan bagi tidak hanya berubahnya bentuk negara, melainkan juga keberadaan kita sebagai bangsa-negara Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: